Di bawah naungan langit yang sama,
aku menemukan alasan untuk menetap.
Bukan pada megahnya garis takdir,
melainkan pada caramu tersenyum tanpa tawa berlebih,
dan bagaimana matamu menenangkan riuh di kepalaku.
Cinta ini tidak lahir dari badai yang gemuruh,
ia tumbuh seperti embun—hening, lembut,
namun cukup untuk menghidupkan yang layu.
Jika esok waktu menagih janji,
biar aku yang mengetuk pintumu lebih dulu,
membawa sisa hari dan cerita sederhana,
bahwa di antara jutaan kemungkinan di dunia,
menyayangimu adalah keputusan paling mudah yang pernah kubuat.




















