Menu

Mode Gelap
Selamatkan Puluhan Orang, Polres Dumai Berhasil Ungkap Praktik Terstruktur Pengiriman PMI Ilegal Bagun Ruang Digital Aman Untuk Anak Indonesia, Pemerintah Terbitkan PP Tuntas Luar Biasa! Jembatan Merah Putih Presisi di Bagan Sinembah Resmi Dibangun Tokoh Masyarakat: Ini Baru Pejuang Rakyat! Sambangi Panipahan Langsung Tuntas Tak Butuh Waktu Lama Panipahan Aman Terkendali! Tokoh Masyarakat: Kami Bangga Punya Kapolres Yang Singap Etika Dulu, Baru Ilmu: Menyelamatkan Komunikasi dari Sekadar Teknik

Pendidikan

Etika Dulu, Baru Ilmu: Menyelamatkan Komunikasi dari Sekadar Teknik

badge-check


					Etika Dulu, Baru Ilmu: Menyelamatkan Komunikasi dari Sekadar Teknik Perbesar

Oleh: Rifky Irfansyah (Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitasnya Islam Riau yang mendalami filsafat komunikasi)

OPINI, RIAUPRO.COM – Dalam dunia komunikasi hari ini, kita terlalu sibuk belajar “bagaimana” dan lupa bertanya “untuk apa”. Kelas-kelas public speaking, pelatihan personal branding, sampai kursus copywriting laris manis. Semua menawarkan rumus: buka dengan hook, tutup dengan CTA, pakai storytelling. Ilmu komunikasinya maju. Tapi etika komunikasinya?

Jürgen Habermas sudah mengingatkan lewat konsep etika wacana: komunikasi baru disebut rasional kalau semua pihak setara, jujur, dan bebas paksaan. Tanpa itu, yang terjadi bukan komunikasi, melainkan dominasi yang dibungkus kata-kata indah. Ilmu tanpa etika menjadikan kita teknisi pesan, bukan manusia yang bertanggung jawab.

Fenomena buzzer, framing jahat, hingga clickbait adalah bukti. Secara “ilmu”, itu berhasil: engagement naik. Secara etika, itu merusak ruang publik. Emmanuel Levinas bahkan lebih radikal begitu wajah orang lain hadir di depan kita, tanggung jawab etis sudah lahir, bahkan sebelum kita sempat buka teori.

Maka dalam filsafat komunikasi, etika harus jadi pondasi. Ilmu memberi tahu “bagaimana caranya”, tapi etika menuntut “pantas tidak caraku ini?”.

Kampus perlu membalik urutannya: ajarkan filsafat dan etika komunikasi di semester 1, baru teknik di semester 3. Biar sarjana komunikasi lahir sebagai penjaga makna, bukan sekadar operator pesan.

Sebab tanpa etika, ilmu komunikasi hanya akan membuat kebohongan semakin canggih.[]

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Ini Kata Sekda Sudandri: Lulusan Harus Jadi Agen Perubahan Dunia Pendidikan, Hadiri Wisuda STKIP Meranti

14 April 2026 - 20:03 WIB

Pastikan Proses Belajar Mengajar Tetap Berjalan, Disdik Riau Atasi Gedung SMAN yang Terbakar

6 April 2026 - 16:01 WIB

Yayasan Marwah Madani Riau Ngaji Jurnal, Berikan Literasi Security OJS dan Peningkatan Substansi Artikel

5 Maret 2026 - 15:01 WIB

Silaturahmi di Kantor Kesbangpol, Wasekjen HIMMAH Pusat Akan Perkuat Sinergi Kawal Ideologi Negara di Rohil

25 Februari 2026 - 09:14 WIB

Membangun Motivasi Siswa: Mahasiswa PLP UMRI Berbagi Inspirasi Perkuliahan di SMK Muhammadiyah 1 Pekanbaru

23 Februari 2026 - 10:16 WIB

Trending di Pendidikan