Oleh: Rifky Irfansyah (Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitasnya Islam Riau yang mendalami filsafat komunikasi)
OPINI, RIAUPRO.COM – Dalam dunia komunikasi hari ini, kita terlalu sibuk belajar “bagaimana” dan lupa bertanya “untuk apa”. Kelas-kelas public speaking, pelatihan personal branding, sampai kursus copywriting laris manis. Semua menawarkan rumus: buka dengan hook, tutup dengan CTA, pakai storytelling. Ilmu komunikasinya maju. Tapi etika komunikasinya?
Jürgen Habermas sudah mengingatkan lewat konsep etika wacana: komunikasi baru disebut rasional kalau semua pihak setara, jujur, dan bebas paksaan. Tanpa itu, yang terjadi bukan komunikasi, melainkan dominasi yang dibungkus kata-kata indah. Ilmu tanpa etika menjadikan kita teknisi pesan, bukan manusia yang bertanggung jawab.
Fenomena buzzer, framing jahat, hingga clickbait adalah bukti. Secara “ilmu”, itu berhasil: engagement naik. Secara etika, itu merusak ruang publik. Emmanuel Levinas bahkan lebih radikal begitu wajah orang lain hadir di depan kita, tanggung jawab etis sudah lahir, bahkan sebelum kita sempat buka teori.
Maka dalam filsafat komunikasi, etika harus jadi pondasi. Ilmu memberi tahu “bagaimana caranya”, tapi etika menuntut “pantas tidak caraku ini?”.
Kampus perlu membalik urutannya: ajarkan filsafat dan etika komunikasi di semester 1, baru teknik di semester 3. Biar sarjana komunikasi lahir sebagai penjaga makna, bukan sekadar operator pesan.
Sebab tanpa etika, ilmu komunikasi hanya akan membuat kebohongan semakin canggih.[]







