Menu

Mode Gelap
IAIR Kampus Pertama di Rohil Launching Program Pascasarjana (S2) Kadisdik Kepulauan Meranti Diduga Main Proyek, Mark Up dan Sewenang-wenang Pimpin Upacara Kenaikan Pangkat 65 Personel, Kapolres Rohil Dorong Tingkatkan Profesionalisme Kick Off H Bistamam, Tanda Dimulai Pertandingan Sepak Bola Piala Bupati Cup Rohil Rayon ll Kunjungi Kediaman Tokoh Masyarakat di Bagan Manunggal, Bukti Kedekatan Bupati Rohil dengan Warga Kuasa Hukum Dr. Selamat Widodo, Arif Rahman Hakim S.E. Laporkan Pencurian dan Penadahan Sawit

Pendidikan

Etika Dulu, Baru Ilmu: Menyelamatkan Komunikasi dari Sekadar Teknik

badge-check


					Etika Dulu, Baru Ilmu: Menyelamatkan Komunikasi dari Sekadar Teknik Perbesar

Oleh: Rifky Irfansyah (Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitasnya Islam Riau yang mendalami filsafat komunikasi)

OPINI, RIAUPRO.COM – Dalam dunia komunikasi hari ini, kita terlalu sibuk belajar “bagaimana” dan lupa bertanya “untuk apa”. Kelas-kelas public speaking, pelatihan personal branding, sampai kursus copywriting laris manis. Semua menawarkan rumus: buka dengan hook, tutup dengan CTA, pakai storytelling. Ilmu komunikasinya maju. Tapi etika komunikasinya?

Jürgen Habermas sudah mengingatkan lewat konsep etika wacana: komunikasi baru disebut rasional kalau semua pihak setara, jujur, dan bebas paksaan. Tanpa itu, yang terjadi bukan komunikasi, melainkan dominasi yang dibungkus kata-kata indah. Ilmu tanpa etika menjadikan kita teknisi pesan, bukan manusia yang bertanggung jawab.

Fenomena buzzer, framing jahat, hingga clickbait adalah bukti. Secara “ilmu”, itu berhasil: engagement naik. Secara etika, itu merusak ruang publik. Emmanuel Levinas bahkan lebih radikal begitu wajah orang lain hadir di depan kita, tanggung jawab etis sudah lahir, bahkan sebelum kita sempat buka teori.

Maka dalam filsafat komunikasi, etika harus jadi pondasi. Ilmu memberi tahu “bagaimana caranya”, tapi etika menuntut “pantas tidak caraku ini?”.

Kampus perlu membalik urutannya: ajarkan filsafat dan etika komunikasi di semester 1, baru teknik di semester 3. Biar sarjana komunikasi lahir sebagai penjaga makna, bukan sekadar operator pesan.

Sebab tanpa etika, ilmu komunikasi hanya akan membuat kebohongan semakin canggih.[]

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

IAIR Kampus Pertama di Rohil Launching Program Pascasarjana (S2)

4 Juli 2026 - 17:04 WIB

Kadisdik Kepulauan Meranti Diduga Main Proyek, Mark Up dan Sewenang-wenang

4 Juli 2026 - 13:20 WIB

Tanam Mangrove Dipulau Setahun, Mahasiswa KKN UNRI Bentengi Abrasi Sambut HUT Bhayangkara ke 80

27 Juni 2026 - 11:11 WIB

Apakah Benar Paket Proyek Disdikbud Meranti Diatur Preman, Ini Keterangan Kabid Sapras

24 Juni 2026 - 16:48 WIB

Sekolah Rakyat Terintegrasi 11 Rohil Gelar Open House, Tampilkan Generasi Muda Berprestasi dan Berdaya Saing

19 Juni 2026 - 14:26 WIB

Trending di Nasional