Menu

Mode Gelap
Tegaskan Komitmen Bersihkan Narkoba, Kapolres Rohil Pimpin Apel Personel Baru Polsek Panipahan Redaksi dan Seluruh Staff RiauPro.com Turut Berduka Cita Atas Wafatnya Sekjen PWI Zulmansyah Sekedang PWI Kehilangan Figur Strategis, Tokoh Pers Nasional Zulmansyah Sekedang Tutup Usia Keluarga Besar PWI Berduka: Sekjen PWI Pusat Zulmansyah Sekedang Tutup Usia Belum Terima Hasil Gelar Perkara Khusus, Ini Kata Kapolda Riau Apresiasi Kinerja Polda Riau, Ketua Umum GRANAT: Prestasi Spektakuler Selamatkan Generasi Bangsa

Kuansing

MEMAKNAI RAYO SARONAM

badge-check


					MEMAKNAI RAYO SARONAM Perbesar

Penulis: Emilia Emharis (Dosen Kebijakan Publik UNIKS)

OPINI, RIAUPRO.COM – Hari raya enam “rayo saronam” bagi masyarakat kenegerian pangean mungkin tidak asing lagi terdengar ditelinga. Rayo saronam ini adalah hari raya yang dilaksankan pas seminggu pasca hari Raya Idul Fitri bulan Syawal setiap tahunnya.

Nama lain yang sering digunakan masyarakat kenegerian Pangean ini dalam menyebut rayo saronam ini adalah dengan sebutan “Rayo Kuburan”, dikarenakan pada hari tersebut dilakukan kegiatan ziarah kubur secara bersamaan pada pagi menjelang siang hari yang berpusat di Koto Tinggi Kenegerian Pangean yang tepatnya di Desa Koto Kecamatan Pangean Kabupaten Kuantan Singingi Provinsi Riau.

Dalam kebesaran kegiatan rayo saronam ini, yang datang dan hadir tidak hanya masyarakat setempat, tetapi ada juga masyarakat dari luar kenegerian Pangean yang memiliki keluarga dan hubungan baik dengan masyarakat kenegerian Pangean, serta juga banyak dihadiri oleh masyarakat yang pulang dari perantauan “anak rantau” sebelum mereka kembali ke tempat bekerjanya masing-masing.

Rayo saronam atau rayo kuburan di Kenegerian Pangean ini hanya dilaksanakan sekali setiap tahunnya. Rangkaian kegiatan ini diawali dengan ziarah kubur, dimana setiap keluarga yang masih hidup biasanya mengunjungi makam keluarganya masing-masing. Dalam kegiatan ziarah kubur ini, keluarga tidak hanya memohon ampunan Do’a kepada-Nya, juga membersihkan area sekitar kuburan yang sudah setahun yang lalu tidak kunjungi.

Setiap makam atau kuburan yang ada di sekitaran koto tinggi ini biasanya letaknya selalu berdampingan dalam satu suku kenegerian Pangean. Di Kenegerian Pangean sendiri memiliki empat suku yaitu suku Paliang, Suku Melayu, Suku Camin, dan Suku Mandailiang. Dalam kegiatan pembersihan area pekuburan dan doa kuburan ini, ada pula kegiatan yang namanya bakar kumonyan sebelum doa dibacakan oleh Uztad “Ongku”.

Setelah kegiatan ini, keluarga yang berada diarea pekuburan ini biasanya saling berasalaman untuk menyambung tali silaturahmi dan saling kenal mengenalkan kembali kepada sanak saudaranya sambil duduk bersama memakan kue “tambual” yang dibawa oleh kaum perempuan “induak-induak.

Kegiatan rayo saronam ini nantinya akan berakhir pada sebuah titik kumpul di rumah godang atau rumah suku masing-masing sebelum pelaksanaan Shalat Zuhur berjamaah di Masjid Jami’ Koto Tinggi Kenegerian Pangean.

Dalam kegiatan ini, seluruh masyarakat biasanya akan berkumpul di rumah godang masing-masing pada setiap sukunya, dalam rangka untuk mempererat tali silaturahmi. Nantinya kita akan mengetahui bahwa kita yang berada dalam satu rumah godang atau sasuku adalah saudara yang tidak diizinkan untuk kawin sasuku.

Masih banyak sebenarnya rangkaian kegiatan dalam perhelatan hari raya enam atau rayo saronam ini, namun penulis dapat memberikan beberapa rangkuman yang mungkin dapat bermanfaat diantaranya adalah, kegiatan ziarah kubur adalah sebagai perwujudan perintah Allah untuk melaksanakan ziarah Kubur dan mengingatkan kita kepada kematian agar kita dapat meningkatkan amal ibadah, hari ini kita mengunjungi, suatu saat kita yang akan dikunjungi.

Kegiatan pembersihan area pekuburan agar kuburan sanak keluarga kita tersebut terlihat indak dan tidak menakutkan dan dapat ditandai dengan berbagai jenis pohon supaya tidak ragu untuk mengunjunginya lagi. Kegiatan makan tambual bersama ini menandakan bahwa indahnya suatu kebersamaan sambil menikmati makanan yang apa adanya.

Kegiatan bakar kumonyan, tergantung kita memaknai dan meyakininya, ada sebagian masyarakat percaya bahwa asap “asok” kumonyan ini dapat menyampaikan doan yang kita bacakan.

Namun penulis kali ini memandang bakar kumonyan ini hanya sebuah tradisi orang-orang tua terdahulu yang harus kita jaga dan kita lestarikan.

Terakhir kegiatan kumpul bersama di rumah godang, adalah sebuah bentuk perkanalan antara anak, kemenakan, cucu dan keluarga lainnya yang dipandu oleh datuak dan penguluh. Salah satu makna berarti dari kegiatan ini adalah kegiatan untuk menghindari kawin sasuku.

Dalam kegiatan rayo saronam ini adalah semuanya dilakukan untuk menyambung dan mempererat tali silaturahmi.[]

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Wujudkan Green Policing, Kanit Binmas Polsek Pangean Hijaukan Lingkungan SMA N 1 Pangean

17 April 2026 - 10:08 WIB

Dukung Program “Green Policing” Kapolda Riau, Bhabinkamtibmas Sungai Langsat Bagikan dan Tanam Puluhan Pohon di SDN 019

13 April 2026 - 08:51 WIB

Kemegahan Tradisi Pacu Jalur di Kuantan Singingi

6 April 2026 - 17:56 WIB

Pesona Alam Kuantan Singingi yang Memukau Wisatawan

6 April 2026 - 00:05 WIB

Menyusuri Jejak Sejarah dan Kekayaan Budaya Kuantan Singingi

4 April 2026 - 22:01 WIB

Trending di Kuansing