RiauPro.com – Kalau orang kota hari ini bicara “konsep berbagi”, rasanya orang Pangean tahun 70an sudah lebih dulu lulus ujian praktiknya—tanpa seminar, tanpa spanduk, apalagi tanpa konten media sosial.
Modalnya cuma satu: rantang. Rantang itu bukan sekadar tempat kue. Ia semacam “dompet sosial” orang kampung. Isinya bukan hanya kue, tapi juga rasa hormat, persaudaraan, dan sedikit strategi—ya, strategi biar kue di rumah tetap aman stoknya sampai hari ketiga lebaran.
Lucunya, sistemnya sederhana tapi ajaib:
Datang ke rumah orang, buka rantang, ambil secukupnya, lalu isi lagi dengan kue tuan rumah. Begitu seterusnya.
Aneh tapi nyata, semakin banyak rumah yang dikunjungi, rantang itu bukan makin kosong—malah makin penuh.
Kalau ini dijadikan teori ekonomi, mungkin namanya “inflasi kebahagiaan tanpa defisit”.
Dan yang paling lucu, kadang ada kue yang keliling kampung lebih rajin dari pemiliknya. Dari rumah si A, pindah ke B, lanjut ke C… eh tahu-tahu balik lagi ke A.
Pas dibuka:
“Eh… ini kue awak tadi kan?”
Langsung pecah tawa. Bukan marah, bukan curiga—malah jadi bahan cerita sampai tahun depan. Itulah kampung dulu.
Tak ada yang takut rugi. Karena memang tak ada konsep rugi dalam memberi.
Malam takbiran pun tak kalah romantis—romantis ala kampung, bukan ala sinetron. Di depan rumah, obor-obor bambu berjajar.
Minyak tanah jadi bahan bakarnya, sabut kelapa atau kain bekas jadi sumbunya. Kalau angin kencang, apinya goyang-goyang—seolah ikut bertakbir.
Kampung jadi terang… bukan karena listrik, tapi karena kebersamaan.
Anak-anak ikut takbiran keliling. Suaranya kadang fals, kadang terlalu semangat, kadang beduknya tak seirama—tapi justru di situlah seninya. Hadiahnya?
Sejeregen minyak tanah. Hari ini mungkin terdengar sederhana. Tapi dulu, itu bisa bikin satu kampung merasa seperti juara dunia.
Pagi lebaran datang dengan suasana yang tak bisa dibeli. Tak ada parfum mahal, tapi bau minyak rambut dan bedak bayi sudah cukup membuat suasana jadi “hari besar”.
Tak ada foto-foto aesthetic, tapi senyum orang-orang jauh lebih jujur dari kamera manapun.
Dan setelah shalat Ied, dimulailah maraton sosial: barayo.
Dari rumah ke rumah.
Dari kue ke kue.
Dari tawa ke tawa.
Tak ada undangan resmi.
Tak ada daftar tamu.
Semua orang adalah keluarga.
Kalau dipikir-pikir, orang kampung dulu itu romantis—tapi tidak lebay.
Romantisnya bukan di kata-kata, tapi di kebiasaan.
Bukan di bunga, tapi di rantang.
Bukan di janji, tapi di kunjungan.
Mereka mungkin tak pernah bilang “aku peduli padamu”, tapi mereka datang ke rumahmu, membawa rantang, dan pulang sambil tertawa.
Dan entah kenapa… itu terasa lebih tulus. Hari ini, kita punya banyak kemudahan.
Tapi kadang kehilangan satu hal sederhana:
rasa cukup dalam kebersamaan.
Dulu, dengan satu rantang, satu kampung bisa saling memberi.
Sekarang, dengan banyak kotak kue, kadang kita bahkan tak sempat saling mengunjungi.
Maka setiap kali lebaran datang, rindu itu ikut pulang:
rindu pada obor yang berkelip,
pada takbir yang tak sempurna,
dan pada rantang yang… entah bagaimana… tak pernah kosong.
Karena ternyata,
yang membuatnya selalu penuh bukan kuenya—
tapi hati orang-orang di dalamnya.
Mardianto Manan
(Pernah berayo jak kecil di kampung halaman Kenagorian Pangean)







