PEKANBARU, RIAUPRO.COM – Suasana semarak pelantikan pengurus Partai Amanat Nasional (PAN) di tingkat kota dan kabupaten se-Riau yang digelar di Gelanggang Remaja Jl. Sudirman, Kota Pekanbaru, ternyata menjadi lahan basah bagi sejumlah pedagang makanan. Di tengah keramaian ribuan tamu undangan yang memadati lokasi acara, ditemukan praktik penetapan harga yang dinilai tidak wajar oleh pengunjung.
Salah satu yang paling disorot adalah pedagang sate yang mangkal di area sekitar lokasi acara. Sejumlah pengunjung mengaku harus merogoh kocek hingga Rp70 ribu hanya untuk dua porsi sate yang ukurannya terbilang kecil. Padahal, di hari biasa dan lokasi yang sama, harga satu porsi sate sejenis rata-rata hanya berkisar antara Rp20 ribu hingga Rp25 ribu.
“Benar-benar memanfaatkan situasi. Kami yang datang dari daerah terpaksa membelinya karena lapar dan tidak ada pilihan lain di sekitar sini. Dua porsi saja Rp70 ribu, rasanya sangat tidak adil,” ungkap salah satu tamu undangan yang tidak ingin disebutkan namanya, Rabu (29/4).
Pengamatan di lokasi menunjukkan antrean panjang di depan lapak pedagang tersebut sepanjang acara berlangsung. Para pedagang terlihat tidak ragu menetapkan harga tinggi karena mengetahui tingginya permintaan makanan dari pengunjung yang jumlahnya membludak. Bahkan, beberapa di antaranya terlihat menaikkan harga secara sepihak saat acara mencapai puncaknya.
Praktik ini memicu keluhan dari banyak pihak. Menurut mereka, kenaikan harga yang tajam dalam waktu singkat merupakan bentuk eksploitasi yang tidak pantas, meskipun momen acara besar memang berpotensi meningkatkan pendapatan pedagang.
“Sebaiknya pedagang tetap memegang prinsip keadilan, bukan hanya mengejar keuntungan sebesar-besarnya dalam waktu singkat. Meskipun kesempatan ada, tidak seharusnya mengambil keuntungan berlebihan di atas kesempitan orang lain,” tambah pengunjung tersebut.
Hingga acara selesai, belum ada tindakan dari panitia penyelenggara maupun pihak berwenang terkait praktik penetapan harga yang dinilai merugikan konsumen ini. Situasi ini menjadi catatan penting bahwa kemeriahan acara besar tidak boleh dijadikan alasan untuk mengabaikan etika perdagangan dan hak-hak konsumen.[]







