KUANSING, RIAUPRO.COM — Generasi muda Riau kembali menunjukkan kiprahnya di tingkat nasional. Mey Rifal Ananta, mahasiswa Universitas Islam Negeri (UIN) Sultan Syarif Kasim Riau asal Kecamatan Benai, Kabupaten Kuantan Singingi, berhasil menembus babak final Mandalika Essay Competition (MEC) 8 yang diselenggarakan di Lombok, Nusa Tenggara Barat. Minggu (03/05/2026).
Dalam kompetisi tersebut, Mey mengangkat tradisi Pacu Jalur melalui esai berjudul “Eksistensi Pacu Jalur dalam Mempertahankan Tradisi Leluhur serta Mendorong Pertumbuhan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Masyarakat Kuantan Singingi di Era Digital”. Karya tersebut menyoroti pentingnya pelestarian budaya lokal yang diiringi dengan inovasi di era digital.
Menurut Mey, Pacu Jalur bukan sekadar perlombaan perahu tradisional, melainkan bagian dari identitas budaya masyarakat Kuantan Singingi yang sarat dengan nilai kebersamaan dan gotong royong. Ia menilai, tradisi tersebut memiliki potensi besar untuk terus dikembangkan sebagai daya tarik pariwisata daerah.
“Pemanfaatan media sosial dan konten kreatif menjadi peluang strategis untuk memperkenalkan Pacu Jalur kepada masyarakat yang lebih luas, baik di tingkat nasional maupun internasional,” ujarnya.
ia juga menekankan pentingnya pengembangan ekonomi kreatif berbasis budaya. Kehadiran Pacu Jalur dinilai mampu mendorong pertumbuhan berbagai produk lokal, seperti kuliner khas, kerajinan tangan, hingga suvenir yang berdampak pada peningkatan perekonomian masyarakat setempat.
Mey menegaskan bahwa generasi muda memiliki peran penting dalam menjaga keberlangsungan tradisi. Dengan pendekatan yang adaptif terhadap perkembangan zaman tanpa meninggalkan nilai-nilai kearifan lokal, Pacu Jalur diyakini dapat terus bertahan dan berkembang.
Melalui esai tersebut, ia berharap Pacu Jalur tidak hanya dipandang sebagai warisan budaya, tetapi juga sebagai instrumen strategis dalam mendorong kemajuan pariwisata dan ekonomi daerah. Selain itu, gagasan yang diangkat diharapkan dapat menjadi referensi bagi pemerintah daerah dan masyarakat dalam mengembangkan budaya lokal berbasis digital secara berkelanjutan.
Keberhasilan ini diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi generasi muda lainnya untuk terus berprestasi sekaligus berkontribusi dalam melestarikan dan mengembangkan potensi budaya daerah.
Namun, di balik capaian tersebut, ia turut menyampaikan harapan kepada pemerintah daerah agar dapat memberikan perhatian lebih terhadap generasi muda yang berprestasi di tingkat nasional, khususnya dari Kabupaten Kuantan Singingi. Dukungan dalam bentuk fasilitasi maupun pendampingan dinilai penting, terutama dalam menghadapi tahapan final yang akan berlangsung di luar daerah.
Menurutnya, keikutsertaan dalam ajang nasional bukan hanya tentang pencapaian individu, tetapi juga membawa nama dan potensi daerah ke panggung yang lebih luas. Ia menilai, ini menjadi kesempatan penting untuk memperkenalkan kekayaan budaya Riau, terutama Kabupaten Kuantan Singingi, agar semakin dikenal.
“Ini bukan hanya soal lomba, tapi juga bagaimana kita bisa membawa cerita daerah, khususnya Kuantan Singingi, ke ruang yang lebih besar. Dukungan dari pemerintah tentu akan sangat berarti, tidak hanya untuk saya, tetapi juga bagi semangat anak muda daerah,”ungkapnya.
Ajang final yang dijadwalkan berlangsung pada 16–18 Mei 2026 di Lombok tersebut menjadi momentum penting, tidak hanya sebagai pembuktian kapasitas individu, tetapi juga sebagai representasi generasi muda Riau, khususnya Kabupaten Kuantan Singingi, yang kritis, adaptif, dan tetap berpijak pada nilai-nilai loka.(***)







