Menu

Mode Gelap
Program Ketahanan Pangan Nasional, Bhabinkamtibmas Tinjau Perkembangan Tanaman Jagung Pipil Polsek Pujud Patroli Pekat, Pengecekan Lokasi Rawan dan Peredaran Narkotika di Pondok Kresek Resmi Dilantik, Pengurus GAMKI Inhu Masa Bakti 2026 – 2029 Mulai Berlayar Dukung Asta Cita Presiden, Polsek Singingi Cek Lahan Pekarangan Bergizi Tanaman Cabai di Logas Hilir Gerebek Bandar Narkoba Kapolsek Turun Langsung, 54,3 gram Sabu dan 18 Butir Ekstasi Diamankan Fakta Persidangan BPR Indra Arta: Nama Mantan Anggota DPRD Mencuat, Hakim Bongkar Dugaan Kredit Bermasalah

Opini

Kuansing Itu Hebat, Setidaknya di atas Kertas

badge-check


					Kuansing Itu Hebat, Setidaknya di atas Kertas. (Penulis: Hendrianto) Perbesar

Kuansing Itu Hebat, Setidaknya di atas Kertas. (Penulis: Hendrianto)

Oleh: Hendrianto.

Kabupaten ini penyandang mahkota. Raja Nila di Bumi Lancang Kuning. Produksinya mencapai 4.900 ton per tahun. Nomor satu di Riau. Tak ada lawan.

Sentra utamanya ada di Kuantan Tengah. Kolam tanah dan keramba menjamur di sana. Airnya mengalir, ikannya gemuk-gemuk. Tapi, ada “tapi” yang besar di balik angka-angka mentereng itu.

Nasib petani kita masih begini-begini saja.

Mengapa? Karena kita masih terjebak di pola lama: jual barang mentah. Begitu panen, ikan langsung naik truk. Dijual ke Air Molek, Rengat, sampai Tembilahan.

Petani kita hanya dapat “lelahnya”. Marginnya tipis. Habis dimakan biaya pelet yang harganya selangit. Belum lagi harga benih. Belum lagi permainan tengkulak kalau panen sedang raya.

Untungnya cuma sisa sedikit. Hanya cukup untuk menyambung napas musim berikutnya.

Padahal, Presiden Prabowo Subianto sudah teriak-teriak soal hilirisasi. Intinya satu: nilai tambah. Jangan lagi jual tanah air dalam bentuk mentah. Termasuk ikan nila dari Kuantan Singingi.

Bayangkan kalau Kuansing punya pabrik pakan sendiri. Pakai bahan baku lokal. Harga pelet bisa ditekan. Petani bisa senyum lebih lebar.

Lalu, jangan hanya jual ikan hidup. Bangun industri pengolahannya. Buat unit fillet beku. Buat pabrik abon atau nugget nila. Sampai kulitnya pun bisa jadi kerupuk yang mahal harganya.

Satu lagi yang penting: Cold Storage. Gudang pendingin raksasa.

Gunanya? Agar petani punya posisi tawar. Kalau harga sedang jatuh karena stok melimpah, ikan masuk gudang. Jangan dipaksa jual murah ke tengkulak. Keluarkan lagi saat harga stabil. Itu baru namanya berdaulat.

Potensi lahan di Kuansing itu luas. Ada 2.000 hektar. Sekarang yang terpakai baru 11 persen. Masih sangat lega untuk berekspansi.

Tapi ingat, ekspansi tanpa hilirisasi itu hanya menambah jumlah orang yang kerja keras tapi tidak kaya-kaya.

Saatnya Kuansing naik kelas. Jangan cuma bangga jadi nomor satu di statistik, tapi harus jadi nomor satu di kesejahteraan petani.

Hilirisasi bukan pilihan. Itu keharusan. Kalau tidak sekarang, kapan lagi? (***)

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Ketua DPC PBB Rohul, Hadiri Resepsi Pernikahan Ketua PAC PBB Rambah Hilir

30 April 2026 - 21:55 WIB

Menyoal Paradoks DBH Sawit Kuansing, Keadilan yang Dikorupsi Sistem?

1 April 2026 - 22:14 WIB

Trending di Opini