PEKANBARU, PRORIAU.COM – Sejarah singkat awalnya tercipta budaya pacu jalur Pacu jalur adalah tradisi pacuan
perahu panjang yang berasal dari Kabupaten Kuantan Singingi, Riau. Tradisi ini sudah ada
sejak abad ke-17, awalnya digunakan sebagai sarana transportasi utama masyarakat di sepanjang sungai Sungai Kuantan untuk mengangkut hasil bumi dan keperluan sehari-hari.
Seiring waktu, Pacu Jalur berkembang menjadi sebuah perlombaan yang diadakan secara rutin, terutama untuk memperingati hari besar Islam dan kemudian Hari Kemerdekaan Republik Indonesia.
Se-iring perkembangan zaman pacu jalur yang dulunya menjadi sarana transportasi
Masyarakat kini sudah menjadi salah satu pariwasata terpopuler di Provinsi Riau. Yang dimana wisata Pacu Jalur ini dinobatkan menjadi pariwisata terpopuler di ajang Anugerah Pesona Indonesia (API), Disaat pemberian piala API ini Kadis Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Kuantan Singingi Marwan, S.Pd, MM mengatakan bahwasannya kini kita membawa slogan
“PACU JALUR MENYAPA DUNIA”, (25/11) di Jakarta.
Kegiatan Pacu Jalur ini diadakan setiap tahun di bulan agustus yamg dimana budaya
pacu jalur ini berhasil mendapatkan perhatian publik setelah beredar video para pendayung cilik yang menari diatas perahu tradisional viral di sosial media. Bukan hanya sekedar perlombaan budaya tahunan akan tetapi pacu jalur ini penuh dengan nilai budaya dan filosofi bagi Masyarakat Kuantan Singingi, Provinsi Riau.
Akhir akhir ini Festival Pacu Jalur ini Kembali menjadi sorotan dunia, salah satunya
berkat viral nya trend “AURA FARMING” di social media yang menampilkan aksi anak anak penari jalur yang menari lincah diujung perahu saat lomba dayung mencuri perhatian dunia karena gerakannya yang menjadi ciri khas.
“Semoga dengan viral nya Festival Pacu Jalur ini pemerintah Kabupaten Kuantan
Singingi bisa memanfaatkan momentum tahunan ini sebagai daya Tarik wisatawan lokal maupun wisatawan mancanegara agar budaya Pacu Jalur ini dapat lebih dikenal luas dan juga bisa membantu pertumbuhan ekonomi Masyarakat di Kabupaten Kuantan Singingi”. Ujar Rayhan Divaio Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Riau (UMRI). (***)







