Batu Bara.RiauPro.com – Proyek turap penimbunan jalan senilai Rp139 juta di Lingkungan II menuju Lingkungan III, Kelurahan Labuhan Ruku, Kecamatan Talawi, Kabupaten Batu Bara, kini menuai sorotan publik akibat dugaan dikerjakan asal jadi.
Pasalnya turap yang awalnya diharapkan membawa manfaat pada warga, justru proyek tersebut menimbulkan malapetaka bagi warga. Sesuai hasil pantauan pada (29/09/ 2025).
Sebuah mobil operasional PLN Tanjung Tiram yang hendak memperbaiki jaringan listrik warga malah terperosok ke badan jalan proyek tersebut.
Jalan yang baru selesai dikerjakan tampak seperti dikerjakan asal jadi dan terkesan amburadul, penuh lubang, dan kuat dugaan tak sesuai spesifikasi.
Insiden ini semakin menguatkan dugaan tipikor dengan adanya permainan anggaran. Warga menuding kontraktor pelaksana hanya mengutamakan pencairan dana, tanpa peduli dengan kualitas pekerjaan.
Yang Lebih parahnya lagi, muncul kecurigaan dan dugaan adanya kongkalikong antara oknum dengan dinas terkait agar proyek tetap lolos tanpa pengawasan ketat. Ratusan juta uang rakyat dihamburkan, hasilnya memalukan. Baru selesai dikerjakan, sudah rusak parah.
” Kami yakin ada permainan di balik pengerjaan proyek ini, janganlah dibuat pekerjaan yang seperti ini, Pemkab Batu Bara yang bertanggung jawab dengan proyek ini diharap jangan tutup mata yang terkesan pembiaran,” ungkap seorang tokoh masyarakat dengan nada geram.
Pantauan awak media di lokasi menyaksikan adanya bekas ban mobil PLN yang terperosok, hingga memperparah kondisi badan jalan yang sudah hancur.
Jalan yang seharusnya mempermudah mobilitas warga justru menjadi jebakan maut bagi pengguna jalan. Publik kini mendesak aparat penegak hukum, baik Kejaksaan maupun Tipikor Polres Batu Bara, untuk segera turun langsung dan tangani kasus dugaan ini.
Jika terbukti ada praktik mark-up dan korupsi dalam proyek turap penimbunan ini, maka kasus tersebut agar diusut hingga tuntas agar menyeret seluruh pihak yang terlibat.
Kasus ini menjadi cermin buruknya tata kelola pembangunan di Batu Bara dari hasil uang rakyat yang digelontorkan, kontraktor berpesta, sementara masyarakat hanya mendapat jalan rusak dan menambah derita.
(T. Sihotang).







