PEKANBARU, RIAUPRO.COM — Ada yang berubah dari Kuantan Singingi. Kuansing Dulu Bangga Disebut Kota Pendidikan, Kini Mahasiswa Justru Menjerit Soal Biaya Kuliah dan Beasiswa.
Dulu, ketika orang menyebut Kuansing, bukan hanya pacu jalur yang terlintas di kepala. Kuansing juga pernah dikenal sebagai daerah yang punya perhatian terhadap pendidikan. Jumat (14/08/2026).
Kini, ketika pacu jalur semakin gencar dipromosikan sebagai identitas daerah, muncul pertanyaan yang jauh lebih penting: “Apakah pendidikan anak-anak Kuansing juga mendapatkan perhatian sebesar promosi daerahnya?
Pertanyaan itu bukan muncul tanpa alasan.
Sebuah polling yang dilakukan di Grup WhatsApp Mahasiswa Kuansing Pekanbaru menunjukkan keresahan yang patut diperhatikan. Dari 782 anggota, 386 memberikan suara.
Hasilnya?
326 suara memilih biaya kuliah sebagai persoalan utama.
Sementara 110 suara menyoroti terbatasnya akses beasiswa.

Angka ini memang bukan survei ilmiah yang mewakili seluruh mahasiswa Kuansing. Tetapi mengabaikannya begitu saja juga bukan sikap yang bijak. Sebab di balik angka itu ada mahasiswa yang sedang berjuang mempertahankan kuliahnya.
Ada yang memikirkan uang semester.
Ada yang harus menghitung biaya hidup.
Ada yang mungkin harus meminta bantuan orang tua yang ekonominya juga tidak selalu mudah. Dan ada pula yang harus bertanya dalam hati:
“Kalau saya tidak mampu membayar kuliah, siapa yang akan peduli?”
Jangan Sampai Pemerintah Lebih Sibuk Mengurus Citra daripada Masa Depan Generasi. Pacu jalur adalah kebanggaan Kuansing. Tidak ada yang perlu menyangkal itu. Tetapi pemerintah harus mampu membedakan antara membangun identitas daerah dan membangun masa depan daerah.
Pacu jalur bisa membuat nama Kuansing terdengar sampai ke berbagai penjuru. Tetapi pendidikanlah yang menentukan siapa yang akan membawa Kuansing ke masa depan.
Kalau untuk promosi daerah anggaran dan energi bisa dikerahkan sedemikian rupa, maka pertanyaan mahasiswa sangat sederhana:
Mengapa persoalan biaya kuliah dan akses beasiswa masih menjadi keresahan?
Jangan sampai pemerintah terlalu pandai membuat daerah terlihat hebat di luar, tetapi lupa memastikan anak daerah bisa mendapatkan pendidikan yang layak.
Jangan hanya mengejar viral. Kejar juga kualitas pendidikan.
Jangan hanya mengejar tepuk tangan. Dengarkan juga jeritan mahasiswa. Jangan hanya bangga dengan prestasi budaya. Banggalah juga ketika anak-anak Kuansing berhasil menjadi sarjana, profesional, ilmuwan, pengusaha, guru, dokter, dan pemimpin masa depan.
Karena sebuah daerah tidak akan menjadi hebat hanya karena festivalnya ramai. Daerah menjadi hebat ketika rakyatnya berpendidikan dan generasinya punya masa depan.
Kuansing Tidak Boleh Kehilangan Jati Diri Pacu jalur boleh menjadi wajah Kuansing. Tetapi jangan biarkan pendidikan kehilangan tempat di hati pemerintah.
Sebab kalau suatu hari Kuansing hanya dikenal karena pacu jalurnya, tetapi anak mudanya harus meninggalkan daerah karena sulit mendapatkan akses pendidikan, maka kita patut bertanya:
Sebenarnya pembangunan ini sedang diarahkan untuk siapa?
Mahasiswa tidak sedang meminta pemerintah mematikan pacu jalur. Mahasiswa hanya ingin pemerintah menunjukkan bahwa masa depan manusia juga sama pentingnya dengan kemeriahan sebuah acara.
Karena membangun panggung untuk sebuah pertunjukan mungkin menghasilkan sorotan. Tetapi membangun manusia membutuhkan keberanian, konsistensi, dan keberpihakan.
Dan di sinilah pemerintah sedang diuji.
Bukan diuji seberapa hebat membuat slogan. Bukan diuji seberapa ramai sebuah acara. Tetapi diuji: SERIUS PEMERINTAH MEMPERJUANGKAN ANAK-ANAK KUANSING AGAR TETAP BISA KULIAH?
Sebab pacu jalur mungkin hanya berlangsung beberapa hari. Tetapi pendidikan menentukan nasib sebuah generasi selama puluhan tahun. Jangan sampai pacu jalur melaju kencang, sementara pendidikan Kuansing justru tertinggal di belakang.
Kuansing pernah dikenal sebagai kota pendidikan. Pertanyaannya sekarang: apakah pemerintah masih ingin mempertahankan predikat itu, atau cukup puas dengan popularitas pacu jalur?
Data berasal dari polling internal Grup WhatsApp Mahasiswa Kuansing Pekanbaru. Sebanyak 386 dari 782 anggota memberikan suara. Polling ini bukan survei ilmiah dan tidak dimaksudkan untuk mewakili seluruh mahasiswa atau masyarakat Kuansing.***






