PEKANBARU, RIAUPRO.COM – Komitmen dalam merawat sekaligus mengembangkan kekayaan budaya Melayu Riau kembali ditunjukkan Seniman Pemangku Negeri (SPN) Irawan Permadi melalui karya tari inovatif bertajuk “Menongkah Menyongsong Arus”. Karya tersebut menjadi salah satu wujud eksplorasi seni yang berangkat dari akar tradisi lokal, khususnya ragam gerak Tari Zapin Siak, dengan pendekatan kreatif yang tetap mempertahankan identitas budaya Melayu. Jumat (31/07/2026).
Irawan Permadi, yang pada tahun 2026 menerima manfaat Dana Indonesiana melalui Dana Abadi Kebudayaan Program Fasilitasi Dana Hibah Kategori Penciptaan Karya Kreatif Inovatif, mengatakan bahwa setiap karya seni harus lahir dari proses penggalian yang mendalam terhadap budaya daerah.
“Sebuah karya harus digali dengan matang dari sumber lokal agar karya itu memiliki identitas yang kuat,” ujar Irawan.
Melalui program tersebut, Irawan menciptakan karya tari “Menongkah Menyongsong Arus” yang dijadwalkan dipentaskan pada Agustus 2026 di Gedung Pertunjukan Anjung Seni Idrus Tintin, Provinsi Riau.
Karya ini berpijak pada filosofi berbagai ragam gerak Tari Zapin Tradisional Riau yang selama ini menjadi representasi nilai-nilai kehidupan masyarakat Melayu. Ragam Shut menggambarkan pentingnya keadilan, kesabaran, dan keseimbangan. Ragam Siku Keluang merepresentasikan dinamika kehidupan yang terus bergerak. Sementara Titi Batang melambangkan keteguhan hati dan keterampilan menghadapi berbagai cobaan, sedangkan Menongkah menggambarkan semangat untuk terus bersabar, berjuang, dan berikhtiar menghadapi pasang surut kehidupan.
Menurut Irawan, pesan utama yang ingin disampaikan melalui karya tersebut adalah semangat masyarakat Melayu pesisir dalam menghadapi berbagai tantangan hidup, terutama di tengah kondisi lingkungan yang semakin mengalami kerusakan.
“Pergelaran karya tari inovatif ‘Menongkah Menyongsong Arus’ menggambarkan masyarakat Melayu pesisir di Riau yang harus berani melawan arus dalam menghadapi tekanan hidup akibat lingkungan yang mulai rusak. Mereka tetap berjuang dengan sabar, menerjang gelombang dan badai demi menata kehidupan yang lebih baik di masa depan,” jelasnya.
Pergelaran ini akan melibatkan 12 penari pria dan wanita yang dipilih berdasarkan kemampuan eksplorasi gerak sekaligus pemahaman mereka terhadap tradisi Tari Zapin Riau. Selain itu, karya ini juga didukung oleh komposer yang memiliki kompetensi dalam musik-musik pesisir Melayu, khususnya musik Zapin.
Untuk memperkuat penyampaian pesan artistik, pertunjukan akan dipadukan dengan visual multimedia yang menampilkan lanskap alam pesisir, termasuk Sungai Siak, sehingga memberikan pengalaman pertunjukan yang lebih utuh bagi penonton.
Pergelaran “Menongkah Menyongsong Arus” akan berlangsung selama dua malam di Gedung Teater Tertutup dengan durasi sekitar 50 menit setiap pertunjukan. Seluruh masyarakat dapat menyaksikan pertunjukan tersebut secara gratis tanpa dipungut biaya.
Usai setiap pementasan, panitia juga akan menggelar diskusi atau dedah karya sebagai ruang apresiasi dan dialog antara seniman dengan masyarakat. Selain pertunjukan langsung, seluruh rangkaian kegiatan juga akan direkam dan disiarkan melalui kanal media sosial, termasuk Instagram dan YouTube, sehingga masyarakat yang tidak dapat hadir secara langsung tetap memiliki kesempatan menikmati pertunjukan.
“Kami menyediakan panggung bagi masyarakat yang ingin menyaksikan langsung di gedung pertunjukan, dan juga menyediakan siaran langsung melalui kanal YouTube bagi masyarakat yang tidak berkesempatan hadir. Keduanya dapat dinikmati secara gratis tanpa pungutan biaya,” tutup Irawan Permadi.
Melalui karya “Menongkah Menyongsong Arus”, Irawan Permadi kembali menegaskan bahwa seni pertunjukan bukan sekadar ruang ekspresi estetika, tetapi juga menjadi media pelestarian budaya, penyampai nilai-nilai kehidupan, sekaligus refleksi atas realitas sosial dan lingkungan yang dihadapi masyarakat Melayu Riau saat ini.(Rls/Davi)







